DjoeRinjani Indosat 085647 55 2287 / PIN BB : 5AD831BF
Djoko Sulistyo CONTACT PERSON : Indosat 085647 55 2287 / PIN BB : 2252BEF7

djoe

djoe
indahnya di puncak merapi

Gunung argopuro

cikasur Argopuro

pantai Wedi Ombo

Pantai gunung kidul jogja

gunung lawu

PosIV CemoroKandang

gunung semeru

danau ranukumbolo

Gunung lawu

posIV cemoro sewu

Selasa, 31 Maret 2015

PENDAKIAN LAWU VIA CANDI CETHO

Mendaki Lawu via Cetho


puncak lawu 3265 mdplMendaki gunung lawu, yang terletak di dekat tempat wisata Tawangmangu. Gunung ini ada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan ketinggian 3265 Mdpl, gunung ini sangat menantang untuk dijelajahi.  Pendakian Gunung Lawu dapat melewati beberapa jalur, antara lain jalur Cemoro Kandang, Candi Cetho, Tambak ( Jawa Tengah ) serta Cemoro Sewu dan Jogorogo ( Jawa Timur ) itu beberapa jalur yang paling umum dan sering didaki.
Mendaki Lawu via Candi Cetho

Jalur pendakian lain yang dapat dijadikan alternatif saat mendaki ke Lawu adalah jalur pendakian lewat candi cetho. Dengan pesona alam luar biasa serta suguhan sebuah komplek candi..
Candi Cetho adalah sebuah candi bercorak agama Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit. Laporan ilmiah pertama mengenainya dibuat oleh Van de Vlies pada 1842.

Candi Cetho (Ceto) adalah peninggalan dari abad ke 15 dan merupakan tempat pelarian Brawijaya V dari islamisasi di trowulan. Kampung sekitar yang tedapat di Candi Cetho adalah kampung dengan mayoritas penduduk yang beragama Hindu.Cetho-lawu

Candi Cetho terletak di ketinggian 1400 mdpl dan secara administratif berada di Dukuh Cetho, Desa Gemeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karang Anyar Jawa Tengah. Desa Gemeng memiliki potensi wisata yang besar karena banyak terdapat candi dan juga pesona kebun teh yang memiliki keunikan tersendiri.


cethoJalur lawu via candi cetho ini memang jarang didaki oleh karena itu sangat mengasyikkan jika mendaki melewati jalur yang satu ini. Jalur ini jauh lebih sepi dan lebih alami. Jalur pendakian sendiri terdiri dari hutan pegunungan yang heterogen, hutan pinus khas pegunungan, dan sabana yang luas. Seringnya kabut menyelimuti jalur ini menjadikan pemandangan makin eksotis terutama di padang sabana. Tak heran beberapa pendaki menyebut jalur ini sebagai surga tersembunyi Gunung lawu.


Akses Candi Cetho menggunakan angkutan umum


Dari Terminal Tirtonadi Solo menuju ke Terminal  Karang Pandan  menggunakan  Bus  jurusan Solo – Tawangmangu ( Rp. 6000- Rp. 10.000). Dilanjutkan dari Terminal Karang Pandang menuju ke  Terminal Kemuning menggunakan angkutan desa/bus kecil (Rp. 5000 – Rp. 8000 ).  Kemudian dari Terminal Kemuning menuju Candi Cetho naik Ojek (Rp. 10.000 – Rp. 15000). Jika menggunakan angkutan umum sebaiknya Anda memperkirakan waktu eberangkatan, karena jam opersional angkutan pedesaan sangat terbatas. Malam hari angkutan sudah tidak ada yang beroperasi.

Akses lain adalah dengan mencarter mobil atau taxi dari Terminal Tirtonadi Solo menuju Candi Cetho. Harga tergantung negosiasi dengan sopir.
Menuju Candi Cetho

Setelah dari  turun dari kendaraan akan terlihat loket penjualan tiket masuk komplek candi. Dari situ pendaki akan langsung disambut jajaran anak tangga menuju komplek Candi Cetho. Dengan menaiki anak tangga tersebut perlahan-lahan hamparan peninggalan candi hindu itu mulai tersingkap. Gapura yang berdiri menjulang dengan anggun di bawah langit akan langsung membawa ingatan kita pada gapura-gapura di Pulau Dewata, Bali.Kawasan ini sangat bersih dan terjaga. Berbagai ornamen bergaya hindu peninggalan masa itu sangat jelas terlihat. Dua buah patung penjaga yang berbentuk mirip dengan patung pra sejarah berdiri membisu di bawahnya. Kawasan candi ini membentang pada sebuah lahan berundak dan dibangun pada akhir kekuasaan Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Brawijaya V. Di salah satu terasnya terdapat susunan batu dengan pahatan berbentuk matahari yang menggambarkan Surya Majapahit, lambang Kerajaan Majapahit. Candi ini pertama kali ditemukan sebagai reruntuhan batu dengan 14 teras berundak. Namun sekarang hanya tertinggal 13 teras, 9 diantaranya telah dipugar.

Sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa, candi ini dihiasi dengan arca phallus yang menjadi symbol Siwa. Terdapat juga patung Brawijaya V serta penasehatnya dan susunan batu berbentuk lingga dan yoni berukuran dua meter. Bangunan utama berbentuk trapesium berada di teras paling atas. Sampai saat ini Candi Cetho masih dipergunakan oleh penduduk sekitar sebagai tempat beribadah. Mereka meletakkan sesajen di arca-arca kemudian naik ke teras tertinggi untuk ritual keagamaan. Harum bunga sesaji dan dupa ditambah dengan kabut yang sering turun menyelimuti area candi memberi kesan mistis.
Menuju Candi Kethek

candi kethek


Keluar dari komplek Candi Cetho melewati jalan setapak kecil Anda akan melewati jajaran warung penjual makanan di sepanjang jalan. Kemudian akan berlanjut menuju hamparan rerumputan yang mulai menanjak. Tak berapa lama komplek Candi kethek akan terlihat. Candi ini berupa bebatuan yang tersusun dan di tengahnya terdapat anak tangga.
Mendaki Gunung Lawu

pos I lawuPersiapan mendaki dimulai dari sini. Jalur mulai sedikit naik, melewati hamparan rerumputan yang di tumbuhi semak dan pohon – pohon yang tidak terlalu tinggi. Melewati perkebunan milik warga kemudian masuk menuju ke hutan. Perjalanan sekitar 1 jam kita akan sampai di sebuah shelter yang terbuat dari anyaman bambu yang kondisinya sudah mulai rusak. Inilah pos I, pendaki tidak disarankan mendirikan tenda disini karena menurut warga setempat rawan longsor.

pos II lawuSetelah istirahat beberapa saat, kita dapat melanjutkan perndakian ke Pos II (Brak Seng). Pendakian ini menyusuri punggungan yang makin lama makin menanjak, walaupun tidak seberapa terjal. Dengan dihiasi tanaman arbei hutan di sepanjang perjalanan. Hutan dijalur ini semakin rapat sehingga perjalanan tidak terlalu panas. Walaupun udara bertiup cukup kering.


Sekitar 45 menit kemudian Pos II sudah mulai terlihat. Berupa sebuah shelter yang mirip gubug yang terbuat dari bambu dengan atap dianyam. Di apit oleh dua buah pohon yang menjulang tinggi, sehingga sangat rindang untuk beristirahat. Di lokasi ini pendaki dapat mendirikan sekitar 2 -3 tenda, jika memutuskan untuk beristirahat.

Perjalanan dilanjutkan melewati hutan yang cukup rapat, dengan tanjakan yang semakin menguras stamina pendaki. Karena bukan jalur yang sering didaki, jalur disini terlihat lebih bersih. Tidak banyak sampah berserakan. Juga minim coretan-coretan diberbagai tempat yang biasanya dilakukan oknum pendaki yang suka iseng. Kira-kira 1 jam kemudian sampailah di Pos III (Cemoro Dowo). Disini terdapat shelter sederhana yang beratapkan seng. Di sini cukup unutk mendirikan 2 – 3 tenda untuk beristirahat.

pos III lawuPendakian kembali berlanjut dengan tanjakan yang lebih menguras stamina. Dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi, dikanan-kiri ditumbuhi akasia gunung. Langkah pendaki mulai pelan menyesuaikan irama detak jantung dan hembusan nafas. Satu jam lebih telah berlalu sampailah pendaki di pos IV (penggik) di apit oleh pohon tinggi menjulang mempersilahkan para pendaki untuk berteduh dan menarik nafas sejenak.


Menuju pos V (Buak Peperangan) jalur mulai sedikit melambung dikarenakan adanya tebing yang menghadang selepas pungungan dari pos IV. Jalur ini didominasi cemara gunung. Perjalanan cenderung landai sampai bertemu tebing yang tidak terlalu tinggi, baru kemudian sampai di hamparan sabana yang cukup luas menuju pos V

Pos V lawuDari pos ini pendaki terus akan melewati sabana, Terdapat sumber air, yaitu Tapak Menjangan yang hanya terisi air saat musim penghujan saja. Sumber air ini terdapat di jalur pendakian. Sabana luas ini berujung di hamparan hutan edelweiss sebelum akhirnya melewati pasar setan yang terdiri dari hamparan batu yang disusun-susun dan vegetasi pohon cantigi.
Hargo Dalem dan Hargo Dumilah

Dari pasar setan ini Hargo Dalem tidak seberapa jauh. Di tempat ini pendaki dapat singgah di warung Mbok Yem yang konon sudah puluhan tahun membuka warung ditempat itu. Dilokasi ini juga terdapat banyak petilasan. Tidak sedikit pula orang yang bersiarah, Sendang Drajat salah satu favorit karena pedaki dapat mengambil air disini, jika tidak kering.

Dari Hargo Dalem ke Puncak Hargo Dumilah hanya memakan waktu kurang dari 20menit. Disini terdapat tugu triangulasi yang menandakan puncak dan ketinggian Gunung Lawu 3.265 mdpl.

PUNCAK HARGODUMILAH

    Adapun rincian perjalanan kami:

    Solo - KarangPandan 07.27 - 08.25. Bis Solo jurusan TawangMangu turun Karang Pandan.       ongkos7.500 perOrang.
    KarangPandan 09.28 - pasar Kemuning 09.55. Bis 3/4, Ongkos 4000 perOrang.
    Pasar Kemuning 10.01- Ceto 10.18. Naik Ojek Ongkos 15rb perOrang.
    Cetho 10.55 - Pos 1 11.40
    Pos 1 12.20- Pos2 12.55
    Pos2 13.30 - Pos3 14.57
    Pos3 15.30 - Pos4 16.50         
    Pos4 17.10 - Cemoro Kembar 17.35
    Cemoro Kembar 06.00 - Pos 5 06.23.
    Pos5 06.45 - Mbok Yem 08.20

 



GUNUNG RAUNG JALUR KALIBARU


 

Transportasi ke Gunung Raung Jalur Kalibaru – Banyuwangi

Jika anda ingin mendaki ke gunung Raung, anda dapat naik kereta api atau bus tujuan Banyuwangi kemudian turun di Stasiun Kalibaru. Di depan stasiun Kalibaru telah mengantri banyak ojek motor yang siap membawa anda ke basecamp Raung yaitu kediaman pak Soeto. Jika mendaki bersama banyak anggota anda dapat mencarter mobil bak/truk kecil. Nama pak Soeto sangat dikenal oleh tukang ojeg di sekitar stasiun kalibaru, karena hanya disitulah tujuan para pendaki… apalagi ditambah jika anda membawa carrier besar dan rombongan, mereka berebut akan menawari anda untuk menggunakan jasa mereka.

Perizinan Gunung Raung

Untuk mendaki Gunung Raung via Kalibaru tidak perlu izin khusus, kita dapat melakukan perizinan dan lapor di polsek Kalibaru atau para pendaki biasa bertemu dengan Pak Soeto(Basecamp Pendaki). Di rumah Pak Soeto kita dapat menginap dan mencari info-info terkait Puncak Sejati Raung.

Basecamp Rumah Pak Soeto – Pos1 (8°12’14’’ LS dan 114°00’05’’ BT)

Dimulai dari Basecamp / rumah Pak Soeto, melewati perkebunan kopi yang sangat melelahkan, jika ingin menghemat waktu anda dapat memesan ojeg pada pak soeto. Ojek itu akan menghantarkan kita ke Pos 1 (dahulu rumah Pak Sunarya ). Tarif ojek 25ribu sekali trip per orang. Di sebelah kiri jalur Pos 1 ini ada jalan menuju sungai yang merupakan sumber air terakhir di jalur pendakian ini, disini pendaki dapat mengisi air, akan lebih aman setiap pendaki membawa air 10 liter.

Pos 1/ Pos Gareng – Pos 2 (8°10’27’’ LS dan 114°01’11’’ BT)

Melewati perkebunan memasuki hutan lebat dengan pepohonan dimana terdapat banyak pohon dan semak berduri, jalan yang dilalui belum menanjak dan cenderung datar dan melipir menyisiri hutan. Diperlukan waktu normal selama kurang lebih 4 jam untuk menempuh jarak dari Pos 1 menuju Pos 2. Pos 2 ini merupakan tempat camp yang terluas di jalur pendakian ini dan pendaki dapat bermalam disini. Pos 2 ini terletak pada ketinggian 1431 Mdpl.

Pos 2/ Pos Semar – Camp 3 (8°9’56’’ LS dan 114°0134 BT)

Pos 2 mulai jalur menanjak mengikuti punggungan dan makin lama tanjakan makin berat. Track yang dilalui cukup sempit dan terdapat banyak tanaman berduri sejenis rotan dll. Diperlukan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai camp 3 yang terletak persis di tengah jalur pendakian disini dapat didirikan 2 tenda. Camp 3 terletak pada ketinggian 1656 Mdpl.

Camp3 – Camp4 (8°9’19’’ LS dan 114°01’52’’ BT)

Dari camp 3 pendakian dimulai dengan jalan landai, kemudian akan melewati turunan sebelum berpindah punggungan dan dilanjutkan tanjakan makin menantang yang cukup menguras stamina. Setelah kurang lebih 2 jam akan tiba di camp4, sebuah dataran yang dapat digunakan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Camp 4 terletak pada ketinggian 1855 Mdpl.

Camp 4 – Camp 5 (8°08’59’’ LS dan 114°01’58’’ BT)

Pendakian pada rute ini masih tetap dalam satu punggungan namun track yang dilalui semakin terjal dan rapat dimana banyak terdapat tanaman berduri (disarankan menggunakan pakaian lengan panjang), bila hujan jalur ini akan menjadi sangat licin. Waktu yang diperlukan untuk melalui rute ini adalah selama lebih kurang 45 menit. Camp 5 ini tidak terlalu luas hanya cukup untuk beristirahat sementara waktu. Camp 5 terletak pada ketinggian 2115 Mdpl.

Camp 5 – Camp 6/Pos3 (Pos Petruk) (8°08’49’’ LS dan 114°02’02’’ BT)

Setelah beristirahat di camp 5 tanjakan jauh semakin berat dan jalurnya semakin terjal, anda wajib berhati – hati saat melintasi rute ini. Rute ini tidak terlalu panjang butuh waktu sekitar 30 menit akan tiba di camp 6 / Pos 3. Di pos 6 ini terdapat area camp yang berundak – undak sebanyak 3 undakan dan dapat digunakan untuk tempat bermalam. Pos 6 terletak pada ketinggian 2285 Mdpl.

Camp 6 – Camp 7 (8°08’24’’ LS dan 114°02’14’’ BT)

Pendakian semakin berat dan menantang karena semakin mendekati puncak Gunung Wates, tracknya semakin terjal, jalur pendakian semakin terbuka dan udara semakin dingin. Setelah sekitar 45 menit kita akan tiba di camp 7, yang merupakan area terbuka, sebuah dataran yang cukup luas, dapat mendirikan 3 tenda.
Di camp 7 ini kita dapat menikmati pemandangan negeri di atas awan yang sangat indah, dimana di depan terdapat puncak gunung Wates, sebelah kiri dan kanan kita dapat melihat berjajar punggungan serta lembah, tampak pula jajaran pegunungan Hyang dan pncak Semeru, apabila malam dan kondisi cerah pemandangan bintang – bintang yang bertebaran di langit yang memancarkan sinarnya serta gemerlap lampu – lampu di perkotaan yang tampak dari kejauhan akan menjadi pemandangan yang dapat kita nikmati di malam hari.
Di camp 7 terdapat bunga Edelweiss. Kondisi di camp7 ini tanahnya rawan longsor dan udara cukup dingin serta angin yang berhembus kencang karena area yang sangat terbuka, untuk itulah agar berhati – hati jika ingin bermalam di camp 7 ini. Camp7 terletak pada ketinggian 2541 Mdpl.

Camp 7 – Camp 8 (8°08’12’’ LS dan 114°02’30’’ BT)

Jika anda bermalam di camp7, ada baiknya barang bawaan ditinggal disana dan membawa perlengkapan yang khusus untuk kepuncak, misal tali, carabiner dll. Akan diawali punggungan menuju puncak gunung wates selama sekitar 45 menit, dengan jalur yang cukup terjal dan rapat oleh semak berduri. Dari puncak gunung Wates pendakian dilajutkan dengan melipiri punggungan yang sangat tipis dengan bibir jurang sehingga sangat butuh konsentrasi dan kehati – hatian. Setelah berjalan melipir kita akan mulai melalui menanjak dimana mulai terdapat vegetasi khas puncak gunung. Total waktu menuju pos 8 ini adalah sekitar 2 jam perjalanan normal.pos 8 terletak pada ketinggian 2876 Mdpl.

Camp 8 – Camp9/Pos 4 (Pos Bagong) (8°08’00’’ LS dan 114°02’33’’ BT)

Jalurnya semakin terjal, masih sangat rimbun, vegetasinya pun semakin jarang dan pepohonan tua yang menjadi ciri khas sebelum puncak gunung. Setelah berjalan sekitar 1 jam barulah kita tiba di camp 9 yang merupakan camp terakhir yang dapat kita gunakan untuk beristirahat, merupakan batas vegetasi. Camp 9 terletak pada ketinggian 3023 Mdpl.

Camp 9 – Puncak Bendera/ Puncak Kalibaru (8°07’56’’ LS dan 114°02’55’’ BT)

Melewati batas vegetasi 10 menit dan akan tiba di puncak Bendera 3154 Mdpl, tak jarang puncak ini juga dinamakan puncak Kalibaru sebagai mana jalur pendakian ini.
Di sini mulailah terpampang kegarangan puncak sejati raung. Jalur yang sangat memacu adrenalin dengan dibalut kanan-kiri jurang menganga. Di kejauhan juga tampak Puncak 17 yang berbentuk piramid, Puncak Tusuk Gigi yang terdiri dari susunan bebatuan yang lancip dan Triangulasi Puncak Sejati Raung. Dari sini jalur kepuncak sejati hanya terlihat samar.
Tantangan Puncak Sejati Gunung Raung 
Memang untuk menaklukkan Puncak Sejati Raung ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

  1. Persiapan Alat : Tali Kern 30m, Carrabiner, Webbing, Harnezt, Ascender, Helm, Jumar, Tali prusik. Semua harus dalam keadaan baik.
  2. Skill Teknis : Anchoring, Ascending, Belaying, descending Rappeling, Moving together. Minimal dalam team harus ada yang menguasai sehingga bisa jadi leader buat teman-temannya.
  3. Motivasi Team : doa, keselamatan adalah utama, saling dukung dan saling melengkapi.
  4. Logistik Team : Makanan, air minum, alat tambahan: kamera, GPS.Jika semua uda dibawa dan disiapkan, kita akan meulai menggunakan peralatan itu tepat di puncak bendera. Mengingat beberapa titik rawan yang harus kita lalui. Kalau semua peralatan sudah dikenakan oleh masing-masing anggota team baru kemudian petualangan ke puncak sejati dapat kita teruskan.
Kita tahu bahwa Jalur ini adalah jalur paling rawan dan menegangkan, salah sedikit akan fatal akibatnya, maka dari itu kewaspadaan, konsentrasi dan fokus serta keselamatan menjadi harga mati yang tidak dapat ditawar lagi.
 Puncak Bendera – Puncak17
Perjalanan dimulai turun dari puncak bendera melipir igir-igir jurang berjalan satu-persatu dan bergantian menjadi pilihan yang mutlak. Maka sampai di titik rawan 1. Di titik ini kita harus melipir tebing bebatuan dimana di sebelah kanan adalah jurang sedalam 50 meter, kita memasang jalur pemanjatan kurang lebih 5 meter, di jalur telah terpasang 1 buah hanger, 1 bolt dan di titik anchor atasnya terdapat pasak besi yang telah tertanam, dapat digunakan sebagai anchor utama.
Leader melakukan artificial climbing sambil memasang jalur pemanjatan. Dapat menggunakan tali kern ataupun cukup membentangkan webbing. Setiap pendaki wajib memasangkan carabinernya jika melewati titik ini dan harus bergantian.
Setelah melewati titik rawan 1 kita menuju puncak 17 / piramida, sampai pada titik rawan yang ke2 yaitu dibawah puncak 17. Disini kita kembali harus membuat jalur pemanjatan, dimana leader melakukan artificial climb selajutnya setibanya di puncak 17 memasang fix rope untuk dilalui orang selanjutnya dengan teknik jumaring. Atau pilihan lain adalah kita tidak kepuncak 17 tetapi melipir lewat samping puncak 17. Disini bisa menggunakan moving together jadi setiap anggota tim memasang carabinernya pada kern yang dibentangkan antara anggota paling depan dan paling belakang. Di titik ini juga terdapat beberapa anchor tanam yang bisa kita gunakan. Dibutuhkan fokus dan konsentrasi ekstra karena medan yang mudah rontok.

Puncak 17 – Puncak Tusuk Gigi


Tibalah kita di titik rawan yang ke3 / terakhir dimana kita harus memasang jalur untuk menuruni tebing sekurangnya 20 meter. Untuk itu menggunakan teknik rappelling untuk mencapai ke bawah. Dititik ini juga sudah ada beberapa anchor tanam dari besi yang dapat kita gunakan. Jalur Kern kita tinggal disini dan akan kita gunakan kembali nanti.
Dibawah dilanjutkan dengan jalan yang agak menurun ke bawah sampai bertemunya jalur pungungan ke Puncak Tusuk Gigi ( dari jauh menyerupai tusuk gigi ). Dari situ kita akan disuguhi hamparan bebatuan yang semakin besar yang harus kita daki
Dari tempat istirahat ini perjalanan kembali menanjak dengan tingkat kemiringan yang makin tegak. Waspadai juga longsor batuan lepas dari atas tidak membahayakan pendaki di bawahnya. Jalur bebatuan ini akan berakhir di puncak Tusuk Gigi dengan batuan sebesar rumah yang tersusun menjulang.

Puncak Sejati Raung (8°07’32’’ LS dan 114°02’48 BT)

Daripuncak Tusuk Gigi berorientasi ke kanan kita melipir ke belakang dan kemudian berjalan agak menanjak sekitar 100 meter tibalah kita di tempat yang menjadi tujuan akhir dari ekspedisi kita PUNCAK SEJATI GUNUNG RAUNG 3344 MDPL, ditandai dengan sebuah triangulasi dan pemandangan sebuah kawah besar yang masih aktif yang setiap saat mengeluarkan asapnya. Dari bawah kawah ini sering mengeluarkan suara dengan raungan yang menggelegar. Jika anda sampai di Puncak Sejati, suara ini akan lebih keras lagi, menggetarkan nyali dan sangat menakutkan

Kamis, 19 Maret 2015

7 gunung tertinggi di indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada di cincin api dunia. Letaknya yang berada di pertemuan dua sirkum yakni pasifik dan mediterania membuat Indonesia dipenuhi dengan gunung-gunung tinggi yang banyak diantaranya merupakan gunung api sangat aktif. Banyaknya gunung merupakan sebuah berkah tersendiri bagi negara kita, dengan kesuburan tanah yang dihasilkan oleh gunung api. Namun di lain sisi, terdapat bahaya yang sangat mengancam dengan banyaknya gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat menghasilkan letusan yang dahsyat.
Kali ini, penulis akan membahas 7 gunung tertinggi di Indonesia, yang tersebar di berbagai pulau-pulau besar dan kecil di wilayah nusantara ini. Gunung mana saja yang merupakan gunung tertinggi di Indonesia, inilah dia pembahasan singkatnya.
  • Puncak Jaya, Papua
Puncak Jaya atau dikenal juga dengan nama Cartenz Pyramid merupakan puncak tertinggi di Indonesia dan Oseania. Puncak Jaya memiliki ketinggian 4.884 mdpl, tergabung dalam barisan Sudirman dengan beberapa puncak tinggi lainnya, yakni Puncak Cartenz Timur (4.808 mdpl), Sumantri (4.870 mdpl), dan Ngga Pulu (4.863 mdpl). Puncak tertinggi Indonesia ini terletak di Papua.
  • Gunung Kerinci, Sumatra
Kerinci adalah gunung berapi tertinggi di Indonesia. Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Indonesia di luar pulau papua. Kerinci terletak di provinsi Jambi pulau Sumatra. Ketinggian gunung ini mencapai angka 3.805 mdpl. Kerinci juga merupakan rumah bagi beberapa hewan terancam punah, yakni harimau sumatra dan badak sumatra.
  • Gunung Rinjani, Lombok
Rinjani merupakan salah satu gunung tertinggi di Indonesia yang berada di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ketinggiannya yang mencapai angka 3.726 mdpl menjadikan Rinjani sebagai gunung api tertinggi kedua di Indonesia setelah gunung Kerinci. Rinjani memiliki pemandangan alam indah dengan danau Segara Anakan yang berada di kawasan gunung ini.
  • Gunung Semeru, Jawa
Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa. Ketinggianya yang mencapai angka 3.676 mdpl menjadikan semeru termasuk salah satu gunung tertinggi di Indonesi. Pemandangan alamnya yang indah, khususnya danau Ranu Kumbolo menjadikan gunung ini salah satu destinasi pendakian paling diminati.
  • Gunung Latimojong, Sulawesi
Gunung Latimojong merupakan gunung tertinggi pulau Sulawesi. Memiliki ketinggian puncak 3.680 yang berada di puncak Rantemario. Dengan tinggi yang menjulang itu, gunung ini menjadi salah satu gunung tertinggi di Indonesia.
  • Gunung Binaiya, Maluku
Gunung Binaiya adalah gunung tertinggi di kepulauan Maluku, Indonesia Timur. Tinggi puncaknya mencapai 3.072 mdpl. Gunung ini berada di Pulau Seram. Gunung ini merupakan salah satu gunung dengan topografi paling menonjol di dunia.
  • Gunung Bukit Raya, Kalimantan
Puncak tertinggi pulau Kalimantan sebenarnya berada di gunung Kinabalu, dikarenakan gunung itu masuk di wilayah Malaysia, Bukit Raya menjadi puncak tertinggi Kalimantan wilayah Indonesia. Bukit Raya terletak di Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah. Kawasan sekitar Bukit Raya merupaka kawasan Cagar Alam.
Itulah 7 gunung tertinggi di Indonesia. Penulis mengambil data dari puncak tertinggi setiap wilayah pulau atau kepulauan yang ada di Indonesia. Jika mengurut berdasarkan ketinggian, tanah papua jelas menguasai puncak-puncak tertinggi di Indonesia, dengan pegunungan Jayawijaya yang menjulang dan memiliki berbagai titik tertinggi. Semoga sedikit informasi ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan pembaca. Salam Lestari..