DjoeRinjani Indosat 085647 55 2287 / PIN BB : 5AD831BF
Djoko Sulistyo CONTACT PERSON : Indosat 085647 55 2287 / PIN BB : 2252BEF7

djoe

djoe
indahnya di puncak merapi

Gunung argopuro

cikasur Argopuro

pantai Wedi Ombo

Pantai gunung kidul jogja

gunung lawu

PosIV CemoroKandang

gunung semeru

danau ranukumbolo

Gunung lawu

posIV cemoro sewu

Rabu, 10 Februari 2016

Tulisan Ku Tayang Di Majalah National Geographic Traveller edisi februari 2016


Selasa, 09 Februari 2016

Tersesat di Gunung Arjuno



       suatu hari di bulan juni 2003, saya bersama 3 orang sahabat saya, deden ,snack dan dony berencana akan melakukan pendakian ke gunung arjuno di malang. Kami berangkat dari stasiun jebres solo turun di kertosono, lanjut naik bus 3/4 jurusan Arjosari malang,dari arjosari lanjut naik angkot jurusan kebun teh.Di dalam angkot menuju kebun teh itu,kami sempat bertanya ke penumpang cewek yg duduk disebelah saya dan masih pake seragam sekolah. " mbak kalo mau ke gunung arjuno turun dimana ya nanti", tanya saya.
"oooo.. mas mas ini mau ke gunung arjuno to", jawab cewek yg pke seragam sekolah itu dgn jawaban setengah tak percaya dan sesekali bercanda dengan teman di sebelahnya seperti menyimpan suatu rahasia.

" iya, emang nya kenapa kok kyaknya aneh gitu ngeliat kita mo naik ke arjuno".dengan muka yg tersipu 2 gadis itu akhirnya bersedia menjelaskan " bukanya meremehkan tapi kaliyan kok berani2 nya naik ke arjuno, disana itu ada tempat yang namanya hutan 'lali jiwo' menurut mitos disini, di Hutan Lali jiwo banyak terdapat manusia yang mencari ilmu dgn bertapa disitu. Tapi tidak bisa dilihat dgn kasat mata alias mereka terjebak masuk ke alam lain ,namun sebenarnya mereka masih berada disitu".
" jika kaliyan punya penglihatan indra ke 6 kaliyan bisa liat kok " papar gadis itu kali ini dgn air muka serius.
" owww, gitu ya ..., tapi kok kamu bisa tau banget sich soal  itu semua ? ", tanya saya sambil menatap serius ke gadis itu.
ternyata mereka berdua adalah anggota pecinta alam dan sekaligus tergabung sebagai tim sar dari gunung arjuno itu sendiri.
" nanti kaliyan mampir ke tempat saya dulu,gimana? nanti dari rumah kami antar ke basecamp",ajak gadis itu .
" ok dech, tapi apa nggak ngrepotin nanti ?"
" ggak kok keluarga saya keluarga pendaki , kakak saya juga pendaki, jadi kami malah senang kalo kaliyan mau mampir, jadi tambah banyak temen ", jawab gadis itu dengan tatapan mata yang ramah.
"ohh ya,namaku farida panggil saja ida" , kalo kaliyan ?"
Namaku Tiyo, sebelahku ini Deden,kalo yg depan kmu itu
itu si doni dan sebelahnya adalah snack”, jawab ku dengan mimic muka seperti cerdas cermat .
Tanpa terasa angkutan pun telah sampai di kebun teh, kami berempat pun ikut turun bersama Farida. Rumah Farida sebenarnya tidak begitu jauh dari basecamp arjuno, kira- kira 15 sampai 20 menit juga nyampe. Tiba dirumah Ida kami disambut hangat dari keluarga,mereka senang dapat kunjungan dari kami anak- anak Solo. Laen waktu gantian mereka yang maen kesolo,walaupun baru saja bertemu tapi kami sudah akrab,kayak sudah kenal lama. Selesai makan dan packing perbekalan,kami diantar Farida ke base camp arjuno.
hari menjelang senja,ketika kami sampai .setelah mendaftar dan membayar uang retribusi , kami putuskan untuk langsung berangkat naik.
farida pun mengantar kami sampai ke depan gerbang masuk.
"hati -hati ya kawan, jaga diri kaliyan baik2, nanti kalo sudah turun mampir lagi ya ke rumah, aku tunggu lho".
" oke ... makasih ya da, dah bantu kami hingga sampai di basecamp ini, besok kalo waktunya longgar ,kita usahakan mampir..",jawab saya sambil menahan haru . Kami berjalan pelan- pelan menyusuri kebun teh, lalu perlahan lahan hilang di rimbunya semak belukar yang tingginya hampir 2 meteran ada.
selepas semak belukar kami mulai memasuki vegetasi hutan yang  sedikit menanjak. disini banyak digunakan sebagai tempat untuk membuka tenda , karena masih banyak ruang terbuka yg cukup untuk membuka tenda.

    Kami istirahat sejenak , menyalakan kompor gas dan memasak air untuk bikin kopi.
suasana disekitar cukup sepi,tak ada suara manusia ataupun binatang. kami menikmati kopi saja tanpa berpikir apa2. yang ada di pikiran kami adalah jalan terus agar tidak terserang dingin , karena kami memang tidak bawa tenda pada waktu itu.hanya semangad lah yang akan membawa kami menuju ke puncak, pada waktu itu saya baru lulus Smk, dan ketiga teman saya masih duduk dikelas 3. pada waktu itu tenda dome dan peralatan gunung lainya masih merupakan barang yang mewah dan sulit terjangkau bagi kami yang masih berstatus pelajar.
Paling kami cuma bisa menyisihkan uang  jajan untuk biaya akomodasi perjalanan. Dan bisa dipastikan sebagai budget yg mepet dan nekat untuk ukuran perjalanan lintas propinsi. Mungkin itulah yang disebut darah muda, darahnya para remaja yang sedang mencari identitas.
...
    Trek semakin bertambah menanjak setelah kami memasuki vegetasi hutan yang rapat.kami seperti berjalan di dalam gua, karena pandangan kami hanya kedepan saja.
hari menjelang pagi, saat kamu tiba di suatu punggungan bukit .. pertanda puncak sudah semakin dekat.
Kami beristirahat sejenak untuk mengisi perut. menu kebangsaan kami adalah mie rebus ditemani kopi susu , sukses mendongkrak stamina kami untuk melanjutkan perjalanan ke puncak arjuna, puncak terindah di jawa..
selesai mengisi perut kami langsung tancap gas ke puncak.
tepat tengah hari sampailah kami di puncak, kami takjub dengan segala keindahan ya, dari puncak arjuna ini kita dapat melihat puncak2 gunung yg lain di jawatimur. seperti puncak wilis ,semeru,kelud dan lain lain.
Di puncak ini lah kali pertama saya menemukan kristal kristal yang membeku akibat dinginya udara di puncak.
ganbate.. , di puncak arjuno ini terdiri dari tanah dan batuan pecah belah yang bertumpukan,sehingga menambah view bagi kami yang ingin mengambil gambar

.
puncak gunung Arjuna

    Begitu indah puncak ini, dari sini tidak ada pohon ataupun bukit yang menghalangi mata untuk melihat view dari segala macam sudut. barat timur utara selatan semua tersaji view
yang memanjakan mata.Puas mengambil gambar kami segera turun karena matahari mulai tergelincir ke sebelah barat.pertanda sore segera menjelang dan kita tidak ingin kemalaman di hutan Lalijiwo.
    perjalanan turun sepertinya tak semulus perjalanan naik. energi yang sudah menurun tak ayal membuat kaki tergadang ogah berkompromi dengan trek. hingga tak jarang sesekali sayapun jatuh terpeleset karena medan yang licin dan terjal.
menjelang senja kita baru sampai di semak - semak yang tinggi , dan hari semakin gelap. namun kaki ini mendadak susah untuk diajak kompromi.
saat mau berangkat tiba2 kakiku susah digerakkan, padahal rombongan sudah agak jauh didepan diikuti deden dan snack, Mereka  turun duluan, menyisakan kami yang masih dibekap cedera kaki.   
        Alhamdulillah masih ada doni yang menemani saya di gelapnya malam itu.
Ditengah hutan yang sepi dan gelap kita hanya berdua saja saat itu , Karena semua pendaki lain sudah turun. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Akhirnya dengan kaki yang masih cedera aku dan doni melanjutkan perjalanan turun. Persediaan air dan makanan mulai menipis, namun kami belum juga melihat tanda- tanda basecamp. Ternyata kami tersesat , dari tadi kami hanya muter- muter di kebun teh. Sudah sejam kami mencari jalan keluar tapi tetap saja ujung-ujungnya kembali ketempat semula. Akhirnya tenaga kami mulai habis, persedian makanan dan minuman pun sudah tak ada lagi.
      Mau nggak mau kami harus bermalam di kebun teh. Tanpa tenda dan makanan. Tanpa lampu dan penerangan.  saking lelahnya kami pun tak sempat untuk berpikir yang macam – macam. Padahal waktu mau berangkat naik, di basecamp kita diwanti- wanti tentang untuk berhati- hati saat berangkat maupun turun dari gunung Arjuno. Karena menurut cerita banyak pendaki yang tersesat dan nggak kembali dalam jiwa dan raga. Saat itu kami hanya pasrah dengan apa yang terjadi, Karena sudah tidak ada yang bisa kami lakukan. Lebih baik beristirahat dulu sambil menunggu pagi datang. Dan Alhamdulillah, malam itu tidak terjadi apa- apa sampai pagi menjelang. Namun , ada kejadian aneh yang dirasakan Doni. Katanya pohon besar dan  tua segede gaban yang ada disebelah kami , Mendadak berjalan dan bertukar tempat dengan dengan pohon yang ada di sebelah doni.

      Terlepas apakah itu Cuma halusinasi atau memang benar adanya, kami tidak terlalu menggubrisnya. Yang penting tujuan utama kami adalah bisa turun ke basecamp dan pulang ke solo dengan selamat. Dan Akhirnya pagi pun datang. Seketika kami beranjak untuk melanjutkan perjalanan turun. Di jalan kami bertemu dengan ibu- ibu pemetik teh yang pagi-pagi sekali sudah berangkat .  Ibu- ibu itu pun menunjukkan arah jalan pulang, dan ternyata mereka mendapat pesan dari petugas di basecamp kalo teman kami yang dua orang  sudah pulang ke solo. Informasi itu ternyata benar adanya, teman kami yang dua orang  sudah pulang duluan ke solo.

     Padahal dompetku berada dalam carriel yang dibawa temanku. Karena kemarin kita sempat tukeran tas waktu turun. Waktu itu tahun 2001  handphone masih mahal, dan kita berempat belum ada yang punya handphone. Penderitaan ternyata belum berakhir, jiaahh , kayak di film- film aja. Setelah dihitung, uang yang ada di dompet doni hanya sebatas buat bayar ojek ke stasiun dan sekedar makan sepincuk pecel  saja. Trus untuk pulang ke solo bagaimana caranya ?. Akhirnya kami jadi penumpang gelap di kereta yang nggak bertiket dan nggak punya uang sama sekali. Pokoknya kalo ada kereta yang tujuan kea rah barat  kami ikut naik diatasnya. Nggak peduli ketika ketahuan nggak punya tiket mau diberi sanksi hukuman apapun, atau mau diturunin dimanapun. Ternyata di dalam kereta itu, kami bertemu dengan orang-orang yang nggak beli tiket dan melakukan beberapa cara agar bisa gratis naik kereta. Ada banyak trik yang mereka gunakan, untuk menghindari petugas saat ada pemeriksaan ticket. Mulai dari berjalan santai melewati petugas ke gerbong sebelumnya, bersembunyi diatas gerbong atau pura- pura buang air di kamar mandi.

     Namun cara yang paling aman adalah berjalan melewati petugas yang akan memeriksa ticket. Walaupun aman trik ini adalah yang paling sulit dilakukan, hanya orang – orang yang lihai saja yang bisa mengelabui petugas. Mereka tahu persis kapan bergerak dan pasang ekspresi muka yang datar seolah – olah tidak terjadi apa – apa. Saran saya jangan pernah bersembunyi ditoilet. Karena petugas akan menggedor – gedor pintu toilet dan akan ditungguin sampai kamu keluar. Persis seperti yang aku alami. Karena masih amatir, saat petugas datang aku panic dan masuk ke toilet. Ehh ternyata petugas sudah mengendus trik yang satu ini. Digedorlah pintu sekeras mungkin , karena berisik sekali aku terpaksa keluar. Didepan pintu sudah berdiri petugas dengan muka galak, kumis tebal dan bawa pentungan seakan – akan siap  menelanku mentah- mentah. Apalagi aku tidak bisa menunjukkan ticket kereta.
      Dibantai abis – abisan bener aku waktu itu. Tak terhitung tamparan yang mendarat di pipi kiri dan kananku. Bukan Cuma itu saja, aku diseret  sampai ke gerbong depan. Sehingga semua pasang mata tertuju kearahku waktu itu. Sampai di gerbong depan aku diturunin  di stasiun berikutnya. Tak patah arang  Aku naik lagi kereta yang menuju kea rah barat, begitu seterusnya sampai aku berhasil mendarat kan kedua kakiku dengan mulus di stasiun Purwosari kota solo.  Tak terbayang betapa leganya hati kami bisa tiba di kota solo dengan selamat. Terimakasih ya Alloh .